UPN Veteran Yogyakarta Salurkan 60 Tangki Air Bersih untuk Warga dan Kawasan Wisata Gunungkidul

  • Senin 28 September 2026
  • Oleh : Dewi
  • 179
  • 4 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Deru kendaraan wisatawan menuju kawasan Pantai Gesing, Girikarto, Panggang, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdengar ramai melintas di Padukuhan Padem, Kalurahan Girikarto, Minggu (27/9/2026). Namun, warga yang duduk di pinggir jalan bukan sedang menunggu kedatangan wisatawan. Mereka menanti puluhan tangki air bersih bantuan yang akan disalurkan ke wilayah mereka. Pemandangan tersebut menjadi ironi di kawasan wisata. Saat wisatawan datang menikmati pesisir Gunungkidul, warga yang tinggal di jalur menuju Pantai Gesing justru harus berjuang mendapatkan air bersih setiap musim kemarau.

Warga Padukuhan Padem praktis tidak memiliki sumber air bersih. Berbagai upaya mencari sumber air, termasuk pengeboran hingga ratusan meter, belum membuahkan hasil.

Wisata Ramai, Warga Beli Air Sudaryanto (40), warga Padem, mengatakan dirinya sudah membeli sekitar enam hingga tujuh tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau. Harga satu tangki air bersih berkisar Rp 150.000 hingga Rp 170.000, tergantung jarak pengiriman. Satu tangki berkapasitas 5.000 liter biasanya hanya cukup digunakan selama dua hingga tiga minggu. "Saya sudah membeli sekitar 6 sampai 7 tangki air bersih. Untuk menghemat air bersih terpaksa mandi sekali paling hanya sore hari," kata Sudaryanto seusai menerima bantuan air bersih dari Alumni UPN Veteran 80A Yogyakarta, Minggu (27/9/2026).

Untuk menghemat persediaan air, Sudaryanto menggunakan ember kecil ketika mandi. "Biasanya saya menggunakan ember kecil untuk mandi," ucapnya. Warga lainnya, Wastimin (62), bahkan sudah membeli 17 tangki air bersih. Setiap tangki dibelinya seharga Rp 150.000 dan biasanya hanya cukup untuk sekitar dua minggu. Air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan enam anggota keluarganya. "Gak bisa hemat air, tidak memiliki sumur, kalau kemarau pasti beli. Saat ini total sudah 17 kali," kata Wastimin.

Saat musim hujan, warga mengandalkan bak penampungan air hujan (PAH) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumur Dibor Ratusan Meter, Air Tak Kunjung Ditemukan Dukuh Padem Sugiyanto mengatakan, persoalan kekeringan di wilayahnya terjadi setiap musim kemarau. Berbagai upaya untuk mendapatkan sumber air telah dilakukan. Beberapa kali pengeboran bahkan dilakukan hingga ratusan meter, tetapi air bersih tak kunjung ditemukan. "Sudah dibor ratusan meter airnya tidak ada, beberapa kali pernah dilakukan pengeboran," kata Sugiyanto. Persoalan semakin rumit karena jaringan air PDAM yang pernah dipasang juga tidak mampu memenuhi kebutuhan warga secara optimal.

Galih (35), warga Padem, mengatakan aliran air PDAM tidak lancar karena permukiman berada di daerah yang lebih tinggi.

"Debitnya kecil, ketika susah naiknya, banyak warga yang memilih mencopot meteran," kata Galih. Sugiyanto mengatakan, pada awal pemasangan jaringan PDAM pada 2016, air masih mengalir lancar. Namun, setelah jumlah pelanggan bertambah, aliran ke wilayah yang berada di ketinggian semakin tidak lancar. Dia bahkan memutus sambungan air ke rumahnya pada 2018 karena air tidak mengalir saat musim kemarau. "Punya saya juga suruh memutus saja, terakhir tagihan Rp 600 ribu. Padahal airnya tidak mengalir," kata dia. "Kalau musim hujan lancar, lha kalau penghujan kan ada tampungan air, jadi tidak begitu berguna," lanjut Sugiyanto.

Berharap Reservoir untuk Warga Sugiyanto mengatakan, terdapat empat RT di Padukuhan Padem yang mengalami kekeringan parah karena tidak memiliki sumber air. Dia pernah mengajukan pembangunan reservoir atau penampungan air berskala besar di perbukitan wilayah tersebut. Namun, hingga kini belum mendapat tanggapan. Warga berharap reservoir dapat dibangun sehingga distribusi air bisa menjangkau rumah-rumah warga secara lebih merata. "Kalau itu belum, ya sampai kapanpun tak pikir belum bisa. Kalau kita ngebor juga sudah berkali-kali," ucapnya.

Menurut Sugiyanto, bantuan air bersih dari pemerintah maupun donatur sangat membantu meringankan beban warga.

60 Tangki Air untuk Warga Pada Minggu, bantuan air bersih kembali datang. Alumni Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta 80A menyalurkan 60 tangki air bersih kepada warga.

Ketua Alumni Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta 80A Ilham Nur mengatakan bantuan tersebut mendapat dukungan para alumni, baik secara moral maupun material. "Kami menyerahkan 60 tangki air bersih. Mudah-mudahan ini menjadi awal. Ke depannya kami berharap bisa membantu lebih banyak," kata Ilham. Sejumlah emak-emak di Padukuhan Padem tampak antusias menunggu tangki bantuan datang. Setiap keluarga yang membutuhkan mendapatkan satu tangki air bersih.

Ketua Alumni Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta 80A Ilham Nur mengatakan bantuan tersebut mendapat dukungan para alumni, baik secara moral maupun material. "Kami menyerahkan 60 tangki air bersih. Mudah-mudahan ini menjadi awal. Ke depannya kami berharap bisa membantu lebih banyak," kata Ilham. Sejumlah emak-emak di Padukuhan Padem tampak antusias menunggu tangki bantuan datang. Setiap keluarga yang membutuhkan mendapatkan satu tangki air bersih.

Bagi warga, bantuan tersebut setidaknya dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli air di tengah kemarau. "Lumayan bisa menghemat air bersih, wilayah kami kesulitan air bersih saat musim kemarau. Ini saja sudah beli 6 kali," kata Sukijah.


https://yogyakarta.kompas.com/read/2026/09/27/170348878/ironi-kekeringan-di-kawasan-wisata-gunungkidul-wisatawan-ramai-warga?page=3