Solusi Ketahanan Pangan: UPN Veteran Yogyakarta Olah Batu Bara Rendah Kalori Jadi Pembenah Tanah

  • Selasa 13 Januari 2026
  • Oleh : Dewi
  • 42
  • 3 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

YOGYAKARTA – Penurunan kualitas tanah pertanian di Indonesia kini menjadi ancaman nyata bagi produktivitas pangan nasional. Menanggapi tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta melakukan terobosan dengan memanfaatkan batu bara jenis Low Rank Coal (LRC) sebagai bahan pembenah tanah (soil ameliorant) yang efektif. Penelitian ini diketuai oleh Partoyo, S.P., M.P., Ph.D., dengan anggota tim Edy Nursanto dan Adi Ilcham. Tujuan inovasi ini untuk mengatasi masalah lahan marjinal sekaligus memberikan nilai tambah pada batu bara kalori rendah yang selama ini kurang bernilai ekonomi dan seringkali menjadi limbah di area pertambangan.  

Ketua tim peneliti, Partoyo, S.P., M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa kunci dari inovasi ini terletak pada ekstraksi asam humat dari batu bara LRC. Melalui proses pretreatment, tim berupaya menghasilkan proses ekstraksi yang lebih efisien untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah secara mendalam.  

"Batu bara jenis LRC jumlahnya sangat besar di Indonesia, namun cenderung tidak termanfaatkan karena energinya rendah. Padahal, jika diekstraksi menjadi asam humat, ini bisa menjadi solusi ampuh untuk memulihkan kesuburan tanah yang selama ini tidak bisa diatasi dengan pembenah tanah biasa," ujar Partoyo dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/1).  

Lebih lanjut, Partoyo menekankan bahwa penelitian ini tidak hanya berhenti di level laboratorium. Pihaknya tengah mengembangkan formulasi asam humat yang tepat untuk digunakan sebagai perlakuan pupuk, khususnya bagi tanaman hortikultura seperti cabai. Menurutnya, penggunaan asam humat ini diharapkan mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan hasil panen petani secara signifikan.  

Selain menjadi solusi bagi sektor pertanian, riset ini juga disebut sebagai jawaban atas permasalahan lingkungan di industri pertambangan. Partoyo menyatakan bahwa dengan mengubah batu bara LRC menjadi produk bernilai tinggi, beban limbah di area tambang dapat berkurang drastis, sehingga mendukung pengelolaan pertambangan yang lebih berkelanjutan (ekonomi sirkular).  

Riset ini direncanakan berlangsung selama dua tahun dengan melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Tahun pertama  difokuskan pada percobaan laboratorium dan uji pot di rumah kaca yang melibatkan Jurusan Teknik Pertambangan, Teknik Kimia, Ilmu Tanah, serta UPA Laboratorium Terpadu UPN “Veteran” Yogyakarta.  

“Pada tahun kedua, kami akan membawa formulasi terbaik hasil uji laboratorium ke lapangan. Kami ingin melihat langsung bagaimana pertumbuhan dan hasil tanaman saat menggunakan formulasi asam humat batu bara ini di kondisi nyata lahan pertanian,” terang Partoyo mengenai tahapan riset tersebut.  

Melalui inovasi ini, UPN “Veteran” Yogyakarta berharap dapat menghasilkan teknologi pemupukan tepat guna yang mampu mengubah tanah marjinal menjadi lahan produktif. Langkah ini menjadi bagian dari kontribusi nyata akademisi dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pendekatan sains yang ramah lingkungan. 

Penulis: Dewi