Muhammad Fairuz, Mahasiswa Teknik Pertambangan UPNVY Bangun Bisnis Sambil Kuliah dan Buka Peluang Kerja

  • Senin 21 September 2026
  • Oleh : Dewi
  • 217
  • 5 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

YOGYAKARTA — Menjalani kuliah sekaligus membangun bisnis bukan perkara mudah. Namun, bagi Muhammad Fairuz Adhimul Arifin, keduanya justru menjadi ruang untuk belajar, berkembang, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Mahasiswa semester 5 Program Studi Teknik Pertambangan Program Sarjana Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) angkatan 2024 tersebut membangun bisnis dari nol hingga berkembang menjadi sebuah ekosistem usaha yang menaungi sejumlah inovasi di bidang desain, teknologi pertanian, dan konstruksi.

Fairuz, yang berasal dari Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, merupakan lulusan SMA Negeri 2 Ungaran. Ia melanjutkan pendidikan tinggi di UPN “Veteran” Yogyakarta melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Perjalanan kewirausahaannya dimulai sejak masih menjadi freelancer. Berbekal kemampuan desain dan kemauan untuk terus belajar, Fairuz mengembangkan usaha tersebut menjadi ARC Studio pada 2021. Hingga kini, ARC Studio yang bergerak di bidang jasa desain arsitektur, sistem web, dan identitas visual telah melayani lebih dari 350 klien komersial.

“Saya memulai bisnis ini benar-benar dari nol. Modal utama saya saat itu hanyalah kemauan keras untuk belajar dan keahlian desain. Dari awalnya hanya menjadi pekerja lepas (freelancer), usaha ini perlahan berkembang menjadi ARC Studio pada tahun 2021 yang kini sudah dipercaya oleh lebih dari 350 klien,” ujar Fairuz.

Keinginan untuk memperluas dampak usaha kemudian mendorong Fairuz mendirikan ARC Ventures pada awal 2026 sebagai holding company yang menaungi berbagai inovasi dan usaha yang dikembangkannya.

Dari ekosistem tersebut, lahir sejumlah unit usaha, di antaranya ARC Studio, AgriFlow Hub, dan Costrux.id. AgriFlow Hub merupakan startup teknologi pertanian yang berhasil masuk dalam Top 20 Finalis Pertamuda Seed & Scale 2025, sementara Costrux.id merupakan rintisan di bidang teknologi konstruksi yang mengembangkan SaaS AI untuk penyusunan RAB serta HaaS IoT untuk pemantauan struktur beton.

“Karena ingin terus berdampak luas, di awal 2026 saya merintis ARC Ventures sebagai wadah besar untuk berbagai inovasi. Dari ekosistem ini lahir juga AgriFlow Hub yang masuk Top 20 dari ribuan startup dalam Pertamuda Seed & Scale 2025, serta Costrux, inovasi di bidang konstruksi yang saat ini telah dipercaya oleh tujuh mitra kontraktor,” kata Fairuz.

Menjalankan bisnis sambil menempuh pendidikan Teknik Pertambangan menjadi tantangan tersendiri bagi Fairuz. Perkuliahan yang membutuhkan konsentrasi pada perhitungan, teori, hingga praktik lapangan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab mengelola bisnis dan memenuhi kebutuhan klien.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mengatur waktu, tetapi juga membagi fokus dan tenaga antara aktivitas akademik dan bisnis.

“Tantangan terberatnya adalah membagi fokus dan tenaga. Di satu sisi, kuliah di Teknik Pertambangan menuntut konsentrasi tinggi pada hitungan dan praktik lapangan. Di sisi lain, saya harus memastikan bisnis tetap melayani klien dengan baik,” tuturnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Fairuz memilih membangun tim yang solid. Ia mulai belajar mendelegasikan pekerjaan dan mempercayakan tanggung jawab kepada anggota tim.

“Solusi terbaik yang saya temukan adalah membangun tim yang solid. Saya belajar untuk saling percaya dan membagi tugas kepada teman-teman satu tim, sehingga bisnis tetap berjalan lancar dan kuliah saya tidak terbengkalai,” ujarnya.

Bagi Fairuz, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya diukur dari pertumbuhan usaha, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Karena itu, ARC Ventures membuka kesempatan bagi mahasiswa aktif dan lulusan baru untuk memperoleh pengalaman sekaligus mengembangkan kemampuan profesional.

“Kami sengaja membuka pintu lebar-lebar bagi mahasiswa aktif dan lulusan baru (fresh graduate) untuk bergabung. Kami tidak menuntut mereka harus langsung hebat di awal; yang penting punya kemauan keras untuk belajar,” jelasnya.

Menurut Fairuz, kesempatan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memperoleh penghasilan mandiri sekaligus membangun pengalaman kerja sebelum menyelesaikan pendidikan.

“Lewat cara ini, teman-teman mahasiswa bisa memiliki penghasilan mandiri untuk meringankan biaya kuliah, sekaligus membangun pengalaman kerja yang berharga sebelum mereka lulus,” lanjutnya.

Selain pemberdayaan talenta muda, Fairuz juga mengembangkan inovasi yang diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya melalui AgriFlow Hub yang berfokus pada digitalisasi sektor pertanian.

Melalui sejumlah proyek percontohan bersama beberapa Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Semarang, AgriFlow Hub dikembangkan untuk membantu menciptakan sistem perdagangan hasil pertanian yang lebih transparan dan memperpendek rantai pasok.

“Kami menyadari bahwa selama ini banyak petani di desa terjebak dalam sistem rantai pasok tradisional yang panjang. AgriFlow Hub hadir sebagai solusi teknologi untuk membantu menata sistem niaga agar lebih transparan dan nilai jual panen dapat meningkat,” ungkap Fairuz.

Sebagai mahasiswa UPNVY yang dikenal dengan identitas Kampus Bela Negara, Fairuz memaknai bela negara dalam konteks yang lebih luas. Baginya, kontribusi generasi muda dapat diwujudkan melalui kemandirian, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Bagi saya, wujud nyata bela negara di era sekarang oleh mahasiswa tidak lagi identik dengan mengangkat senjata, melainkan mengangkat derajat ekonomi masyarakat,” kata Fairuz.

Ia menilai mahasiswa memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi melalui keahlian dan karya yang dimiliki.

“Membuka lapangan kerja untuk teman-teman mahasiswa, membantu mengurangi pengangguran, serta menciptakan teknologi yang mempermudah kerja berbagai profesi masyarakat adalah cara nyata kita membela negara,” lanjutnya.

Bagi Fairuz, perjalanan membangun usaha sejak mahasiswa bukan semata-mata tentang mengejar keberhasilan bisnis. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi kesempatan untuk terus belajar, menciptakan peluang, dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

“Menjadi mandiri dan bermanfaat untuk masyarakat luas adalah kontribusi terbaik yang bisa diberikan anak muda untuk bangsanya,” pungkasnya.

Penulis: dws